Rabu, 17 Juni 2009

Ketika pengamen tak semangat lagi berdendang

Ketika pengamen tak semangat lagi berdendang

Menyanyi…
Bersenandung…
Berdendang…
Tertawa ria…
Melantunkan bait demi bait lagu-lagu teranyar tiap harinya…..
Begitulah pengamen menjalankan rutinitas musikalnya. Meski hujan, panas, terik, petir, bus penuh sesak, bus kosong penumpang mereka lakukan dengan suka cita maupun terpaksa.

Itulah jiwa mereka, jiwa yang bebas, dengan membebaskan diri melantunkan bait syair yang beragam rupa itulah sesungguhnya mereka sedang meni’mati hidup.
Dari sebuah angkot yang sudah renta dan nampak kelelahan, aku mengintip mereka. Menyaksikan dengan seksama peluh-peluh yang mereka seka setelah seharian berdendang, peluh yang terakhir mereka seka di malam yang begitu pekat.

Di ujung pintu angkot beberapa menit kemudian, bocah pendendang lain menunaikan tugas terakhirnya dengan gontai, membagikan amplop pembayaran hasil dendangan si bocah kepada penumpang dengan sorot mata yang begitu padam, tak ada cahaya., tak ada gelora, tak ada jiwa yang bebas. entahlah mungkin ia sudah bosan meni’mati hidupnya dengan berdendang. Mungkin ia ingin juga seperti bocah-bocah lain yang tadi siang baru dijemput pulang sekolah yang dilihatnya dari luar jendela mobil, objek dendangannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar